Tugas UAS

Gender, apa bisa disetarakan???

Isu gender selalu menjadi wacana yang selalu menarik untuk dibicarakan, karena setiap gender dikemukakan pasti ada tema yang baru untuk diperbincangkan. Namun kita perlu tahu dulu apa itu gender agar kita tidak salah paham. Menurut Nasaruddin Umar, gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari pengaruh social budaya. Ada juga definisi yang lebih jelas, yaitu gender merupakan pandangan atau keyakinan yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan atau laki-laki bertingkah laku maupun berpikir. Misalnya Pandangan bahwa seorang perempuan ideal harus pandai memasak, pandai merawat diri, lemah-lembut, atau keyakinan bahwa perempuan adalah mahluk yang sensitif, emosional, selalu memakai perasaan. Sebaliknya seorang laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumah-tangga, rasional, tegas dan sebagainya. Singkatnya, gender adalah jenis kelamin sosial yang dibuat masyarakat, yang belum tentu benar. Berbeda dengan Seks yang merupakan jenis kelamin biologis ciptaan Tuhan, seperti perempuan memiliki vagina, payudara, rahim, bisa melahirkan dan menyusui sementara laki-laki memiliki jakun, penis, dan sperma, yang sudah ada sejak dahulu kala.
Adapun dalil-dalil dalam Al-quran yang mengatur tentang kesetaraan gender adalah:
a. Tentang hakikat penciptaan lelaki dan perempuan
Surat Ar-rum ayat 21, surat An-nisa ayat 1, surat Hujurat ayat 13 yang pada intinya berisi bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia berpasang-pasangan yaitu lelaki dan perempuan, supaya mereka hidup tenang dan tentram, agar saling mencintai dan menyayangi serta kasih mengasihi, agar lahir dan menyebar banyak laki-laki dan perempuan serta agar mereka saling mengenal. Ayat -ayat diatas menunjukkan adanya hubungan yang saling timbal balik antara lelaki dan perempuan, dan tidak ada satupun yang mengindikasikan adanya superioritas satu jenis atas jenis lainnya.
b. Tentang kedudukan dan kesetaraan antara lelaki dan perempuan
Surat Ali-Imran ayat 195, surat An-nisa ayat 124, surat An-nahl ayat 97, surat Ataubah ayat 71-72, surat Al-ahzab ayat 35. Ayat-ayat tersebut memuat bahwa Allah SWT secara khusus menunjuk baik kepada perempuan maupun lelaki untuk menegakkan nilai-nilai islam dengan beriman, bertaqwa dan beramal. Allah SWT juga memberikan peran dan tanggung jawab yang sama antara lelaki dan perempuan dalam menjalankan kehidupan spiritualnya. Dan Allah pun memberikan sanksi yang sama terhadap perempuan dan lelaki untuk semua kesalahan yang dilakukannya. Jadi pada intinya kedudukan dan derajat antara lelaki dan perempuan dimata Allah SWT adalah sama, dan yang membuatnya tidak sama hanyalah keimanan dan ketaqwaannya.
Kesetaraan yang dimaksud adalah kondisi dan posisi yang menggambarkan kemitraan yang selaras, serasi dan seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh peluang/kesempatan dalam mengakses, partisipasi, control dan manfaat dalam pelaksanaan pembangunan serta menikmati hasil pembangunan dalam kehidupan keluarga, maupun dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Menurut D.R. Nasaruddin Umar dalam “Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan” (2000) ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa prinsip-prinsip kesetaraan gender ada di dalam Qur’an, yakni:
a. Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Sebagai Hamba
Menurut Q.S. al-Zariyat (51:56), (ditulis alqurannya dalam buku argumen kesetaraan gender hal 248) Dalam kapasitas sebagai hamba tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam Qur’an biasa diistilahkan sebagai orang-orang yang bertaqwa (mutaqqun), dan untuk mencapai derajat mutaqqun ini tidak dikenal adanya perbedaan jenis kelamin, suku bangsa atau kelompok etnis tertentu, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat (49:13)
b. Perempuan dan Laki-laki sebagai Khalifah di Bumi
Kapasitas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fi al’ard) ditegaskan dalam Q.S. al-An’am(6:165), dan dalam Q.S. al-Baqarah (2:30) Dalam kedua ayat tersebut, kata ‘khalifah” tidak menunjuk pada salah satu jenis kelamin tertentu, artinya, baik perempuan maupun laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah, yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tugas kekhalifahannya di bumi.
c. Perempuan dan Laki-laki Menerima Perjanjian Awal dengan Tuhan
Perempuan dan laki-laki sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian awal dengan Tuhan, seperti dalam Q.S. al A’raf (7:172) yakni ikrar akan keberadaan Tuhan yang disaksikan oleh para malaikat. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya diskriminasi jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang sama. Qur’an juga menegaskan bahwa Allah memuliakan seluruh anak cucu Adam tanpa pembedaan jenis kelamin. (Q.S. al-Isra’/17:70)
d. Adam dan Hawa Terlibat secara Aktif Dalam Drama Kosmis
Semua ayat yang menceritakan tentang drama kosmis, yakni cerita tentang keadaan Adam dan Hawa di surga sampai keluar ke bumi, selalu menekankan keterlibatan keduanya secara aktif, dengan penggunaan kata ganti untuk dua orang (huma), yakni kata ganti untuk Adam dan Hawa, yang terlihat dalam beberapa kasus berikut:
• Keduanya diciptakan di surga dan memanfaatkan fasilitas surga (Q.S.al-Baqarah/2:35)
• Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Q.S.al-A’raf/7:20)
• Sama-sama memohon ampun dan sama-sama diampuni Tuhan (Q.S.al A’raf/7:23)
• Setelah di bumi keduanya mengembangkanketurunan dan saling melengkapi dan saling membutuhkan (Q.S.al Baqarah/2:187)
e. Perempuan dan Laki-laki Sama-sama Berpotensi Meraih Prestasi
Peluang untuk meraih prestasi maksimum tidak ada pembedaan antara perempuan dan laki-laki ditegaskan secara khusus dalam 3 (tiga) ayat, yakni: Q.S. Ali Imran /3:195; Q.S.an-Nisa/4:124; Q.S.an-Nahl/16:97. Ketiganya mengisyaratkan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja.
Kesetaraan gender banyak disuarakan oleh kaum hawa, karena mereka merasa terdiskriminasi. Contohnya banyak kaun perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan fisik dan psikis yang diterima dari majikan. Kesetaraan gender pertama diusung yaitu untuk mengingatkan masyarakat bahwa antara laki-laki dan perempuan itu sama.
Tapi zaman sekarang masalah gender lebih mengarah pada wanita diluar rumah untuk mengekpresikan diri dan menampilkan keberadaannya didepan halayak banyak terlebih lagi dalam urusan karir. Kebanyakan wanita zaman sekarang mengangap karir sanagtlah penting. Sehingga banyak diluar sana wanita yang menjadi sekretaris, manajer, dll yang pastinya memerlukan waktu dan pemikiran yang ekstra dalam mengerjakannya. Pada saat itulah mereka tidak punya waktu lebih dalam mengurus keluarga. Maka sekarang banyak kita lihat yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah bibik, yang mengasuh anak ada baby sitter, dan masih banyak tempat penitipan anak. Sudah bisa ditebak oarng yang memakai jasa itu semua adalah orang tua khususnya ibu yang tidak sempat lagi mengurus/ melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu.
Menurut saya kesetaraan gender akan terealisasi apabila, laki-laki dan perempuan mengetahui dan melaksanakan hak dan kewajibanya secara benar dan seimbang. Keberadaan laki-laki dan perempuan adalah untuk saling melengkapi tidak ada yang unggul dan diunggulkan. Keberadaanya , laksana bulan dan matahari meskipun berbeda fungsi tapi keberadaannya memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga keselarasan alam semesta. Coba kita bayangkan apabila bulan meminta untuk bertukar posisi dengan matahari, siang akan menjadi gelap gulita padahal siang adalah waktu untuk manusia menjalankan aktifitasnya mencari penghidupan, ini akan mengakibatkan kehidupan didunia akan kacau.
Hak dan kewajiban suami istri.
Kewajiban suami terhadap istri;
1. Mempergauli istri dengan baik (QS.4:19)
2. Suami harus memimpin istri ( QS.2:187,223)
3. Suami wajib memberi nafkah
4. Suami mendidik istri (QS.4:34, 66:6)
5. Suami harus melindungi rahasia istri
6. Memberi kesempatan istri bersilaturrahmi kepada keluarganya juga keluarga suami.
7. Memanggil istri dengan suara yang mengandung kasih sayang.
8. Berbicara dengan bahasa yang menggembirakan istri.
9. Apabila bepergian, hendaklah menampakan wajah yang ceria dan tersenyum ketika bertemu dengan istri.
10. Apabila melakukan perjalanannya jauh hendaklah selalu ingat istri agar tidak khianat kepadanya.
11. Bersikap sabar dan berwibawa, berusaha menasehati istri apabila menyeleweng.
12. Membantu istri untuk menciptakan kesejahteraan dan kedamaiaan keluarga.
13. Mampu mencari penyelesaian yang baik dan mengandung hikmah apabila terjadi perselisihan.
14. Harus bersikap hormat terhadap orang tuanya dan menampakan akhlak yang baik terhadap keluarga istri.
15. Bertanggungjawab terhadap istri, anak dan seluruh anggota keluarga, baik dalam maupun luar (QS.66:6)

Kewajiban istri terhadap suami:
1. Menjaga kehormatan diri (QS.4:34)
2. Taat pada suami.
3. Tidak boleh keluar rumah tanpa seizin suami. (QS.33:32-33; 4:148)
4. Tidak boleh menerima tamu yang tidak disenangi oleh suami.
5. Tidak boleh melawan suami dan bersikap sombong.
6. Tidak boleh membanggakan diri dihadapan suami, baik tentang keluarga, kekayaan, kecantikan dan keturunannya.
7. Tidak boleh menganggap bodoh kepada suami
8. Tidak boleh menuduh suami tanpa alasan dan bukti yang akurat dan kuat
9. Tidak boleh mengejek keluarga suami.
10. Tidak boleh menunjukan pertentangan dihadapan anak.
11. Melepas suami dengan sikap kasih sayang dan menyambutnya dengan wajah manis dan ceria.
12. Harus dapat menyiapkan dan menyediakan kebutuhan suami
13. Harus pandai mengatur dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
14. Harus dapat bertindak sebagai ibu untuk mengasuh dan mengajar anak-anaknya.
15. Agar menjaga iddahnya apabila ditalaq suami demi menjaga kesucian perkawinan.

Hak dan kewajiban bersama / suami istri:
1. Saling menjaga amanah
2. Saling memberikan cinta dan kasih sayang (QS. 30:21)
3. Memenuhi berbagai persyaratan pergaulan umum (QS.4:19)
4. Kerjasama membina rumah tangga
5. Bersikap sabar
6. Saling menghormati keluarga (QS. 4:36)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s